Latar Belakang Pembentukan Komunitas yang Inklusif di Wilayah PCSP
PERINTIS mendukung Proyek Sanitasi Kota Palembang (PCSP) untuk menciptakan sistem sambungan perpipaan air limbah rumah tangga berkualitas tinggi melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan khususnya pada kelompok perempuan marjinal, penyandang disabilitas, dan pemuda/i yang tidak bekerja.
Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung pembangunan air limbah perkotaan yang inklusif, PERINTIS memfasilitasi berbagai forum berbasis komunitas yang ada di masyarakat agar masyarakat dapat terlibat secara bermakna dalam setiap tahapan proses pembangunan air limbah.
Forum-forum ini berperan penting dalam memastikan keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan sanitasi, serta menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk memperkuat kolaborasi antar masyarakat.
PERINTIS memfasilitasi berbagai forum komunitas di wilayah PCSP untuk mengatasi berbagai isu, di antaranya:
- Terkait isu perempuan melalui pembentukan Women’s Led Community Center (WlCC),
- Terkait isu disabilitas melalui Forum Komunikasi Disabilitas Palembang (FKDP),
- Terkait isu keluhan warga melalui Forum Warga Inklusif (FWI), dan
- Terkait sanitasi dan lingkungan melalui Bank Sampah dan Kampung Sanitasi.
Pembentukan berbagai forum komunitas ini bertujuan untuk memastikan keterlibatan yang inklusif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.
Dengan adanya program ini, masyarakat termasuk kelompok rentan tidak hanya memperoleh akses terhadap sanitasi yang lebih layak, namun juga rasa memiliki terhadap fasilitas sanitasi yang telah terbangun. Keberlanjutan program ini bertumpu pada peran serta komunitas yang semakin kuat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang bagi semua lapisan masyarakat, baik dari segi kesehatan, pemberdayaan ekonomi, maupun kesejahteraan sosial.
Pada akhirnya, pendekatan ini berupaya meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan, memastikan bahwa inisiatif yang telah dibangun terus berjalan secara mandiri, dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Pengertian Komunitas Inklusif
Komunitas yang inklusif adalah kelompok masyarakat yang menerima, menghargai, dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu, tanpa memandang usia, jenis kelamin, kemampuan fisik, atau latar belakang lainnya. Dalam komunitas inklusif, setiap anggota memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi, berkontribusi, dan merasa dihargai.
Untuk mewujudkan komunitas yang inklusif, perlu melibatkan keterwakilan perempuan, lansia, serta penyandang disabilitas dan didukung dengan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua anggota komunitas.
Berikut adalah ciri-ciri komunitas yang inklusif:
- Partisipasi aktif: Keterlibatan aktif dan bermakna dari seluruh anggota komunitas di dalam setiap kegiatan.
- Kesetaraan gender: Pemberian kesempatan dan perlakuan yang sama pada perempuan dan laki-laki di dalam pembagian peran, posisi, tugas, tanggung jawab.
- Menghormati perbedaan: Menerima dan menghargai keragaman sosial, fisik, dan mental, dan keberagaman fungsi tubuh lainnya yang ada di dalam komunitas.
- Membangun jaringan: Bekerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Komunitas yang inklusif dapat menumbuhkan sikap saling menghargai, membangun hubungan yang lebih harmonis, saling mendukung, menciptakan lingkungan yang lebih adil, dan berdaya bagi semua anggotanya. Komunitas inklusif juga dapat memberikan kesempatan yang sama bagi anggotanya untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendekatan GEDSI dalam membentuk Komunitas yang Inklusif
Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) merupakan pendekatan yang diterapkan dalam membentuk komunitas inklusif, dimana setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, termasuk dalam pengambilan keputusan, serta menikmati manfaat dari program dan aktivitas komunitas. Beberapa prinsip GEDSI sebagai berikut:
- Kesetaraan Gender (Gender Equality)
Pendekatan ini memastikan bahwa perempuan, yang seringkali terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan dan akses terhadap layanan, memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan informasi, pelatihan, dan akses terhadap fasilitas sanitasi.
- Disabilitas (Disability)
Pendekatan inklusi disabilitas memastikan bahwa penyandang disabilitas tidak hanya mendapat akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak, tetapi juga terlibat dalam program-program pemberdayaan.
- Inklusi Sosial (Social Inclusion)
Inklusi sosial berfokus pada menciptakan kesempatan bagi kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan, seperti masyarakat miskin, kelompok minoritas, atau mereka yang hidup di daerah terpencil, untuk mengakses layanan dan manfaat dari program sanitasi.
Manfaat Pendekatan GEDSI
Pendekatan GEDSI di dalam proyek sanitasi air limbah juga memberikan manfaat yang signifikan bagi pemerintah dan lembaga donor, di antaranya:
Bagi Pemerintah:
- Kebijakan yang lebih Inklusif dan Efektif
Membantu pemerintah menyusun kebijakan sanitasi yang lebih responsif terhadap kebutuhan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan sehingga pembangunan infrastruktur dapat lebih efektif dan berkelanjutan. - Peningkatan Efektifitas Program
Dengan melibatkan masyarakat, proyek sanitasi lebih tepat sasaran, meningkatkan efektifitas dalam implementasi dan pemanfaatannya. - Peningkatan Capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Mendukung pencapaian SDG 6 (Akses terhadap air bersih dan sanitasi) serta SDG 5 (Kesetaraan gender), yang menjadi komitmen global pemerintah Indonesia. - Penguatan Kapasitas dan Koordinasi Antar Sektor
Mendorong kerja sama lintas sektor (kesehatan, sosial, infrastruktur) dalam mengelola sanitasi air limbah secara lebih terintegrasi dan inklusif. - Meningkatkan Kepercayaan Publik
Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat merasa lebih dilibatkan dalam kebijakan publik. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Bagi Lembaga Donor:
- Meningkatkan Dampak Sosial dan Keberlanjutan Program
Program berbasis GEDSI memastikan manfaat proyek tidak hanya bersifat teknis tetapi juga berdampak sosial jangka panjang. - Memastikan Akuntabilitas dan Transparansi
Dengan melibatkan masyarakat, pemantauan dan evaluasi proyek menjadi lebih transparan, mengurangi risiko penyalahgunaan dana. - Meningkatkan Relevansi Program dengan Kebutuhan Lokal
Partisipasi masyarakat memungkinkan proyek sanitasi air limbah lebih sesuai dengan konteks sosial dan budaya setempat sehingga meningkatkan efektivitas intervensi. - Memperkuat Kemitraan Pemerintah dan Komunitas
Membangun hubungan yang lebih erat dengan pemerintah dan masyarakat guna menciptakan model kerja sama yang lebih berkelanjutan. - Menunjukkan Komitmen terhadap Prinsip Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan
Menguatkan citra lembaga donor sebagai entitas yang peduli terhadap keadilan sosial dan pembangunan yang inklusif.
Secara keseluruhan, pendekatan GEDSI dalam pembangunan air limbah di Kota Palembang membantu pemerintah dan lembaga donor mencapai tujuan pembangunan yang lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan.
Silakan klik selanjutnya untuk melihat langkah-langkah pemberdayaan masyarakat inklusif dan contohnya di Kota palembang.