Pengertian Pelatihan Inklusif PCSP
Pelatihan inklusif adalah pelatihan yang mengutamakan pengalaman belajar, mengakomodasi kebutuhan dan latar belakang peserta pelatihan yang berbeda, memastikan akses, partisipasi, dan keterlibatan yang setara bagi setiap orang.
Pelatihan inklusif berfokus pada penyediaan akses, menghilangkan hambatan, dan mempromosikan lingkungan yang aman dimana setiap individu merasa dihargai dan dapat mencapai potensi masing-masing dalam pelatihan.
Panduan pelatihan inklusif dalam program pembangunan air limbah Kota Palembang (PCSP) didesain dan dilaksanakan sebagai bagian dari aktivitas pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara tatap muka. Dalam pelaksanaan di PCSP, pelatihan langsung ke masyarakat dapat meningkatkan awareness atau kesadaran masyarakat terhadap air limbah dan pembangunan sambungan rumah atau penyedotan lumpur tinja berkala.
Pelatihan untuk masyarakat di wilayah PCSP dilakukan sebelum dan selama proses pembangunan sambungan rumah untuk pengolahan air limbah rumah tangga. Sedangkan untuk masyarakat di luar wilayah PCSP, pelatihan dilaksanakan sebelum program penyedotan tangki septik dimulai. Dengan pendekatan ini, diharapkan masyarakat dapat memahami pentingnya sanitasi yang aman dan mendapatkan informasi yang jelas dan relevan sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai sanitasi.
Pendekatan GEDSI dalam Pelatihan yang Inklusif
Pendekatan GEDSI diintegrasikan dalam pelatihan agar Pembangunan Air Limbah Perkotaan (PCSP) melalui sosialisasi dan pelatihan menjadi inklusif. Fokusnya adalah membantu masyarakat termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan air limbah, serta mendorong pemerintah dan kontraktor untuk menyelenggarakan layanan sanitasi aman yang inklusif. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang terhubung ke sistem sanitasi yang aman, termasuk ke sambungan air limbah rumah tangga dan operasional serta perawatan tangki septik. Pengetahuan ini diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mendukung, bersedia untuk menyambung ke saluran air limbah rumah tangga atau memiliki tangki septik aman yang disedot secara berkala, dan berkomitmen terhadap perilaku kesehatan dan kebersihan yang baik.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penerapan strategi yang ditargetkan dan inklusif tidak hanya meningkatkan peluang keberhasilan dan keberlanjutan investasi infrastruktur, tetapi juga memberikan manfaat bagi seluruh anggota masyarakat. Dalam konteks ini, 'Sanitasi Inklusif' diartikan sebagai proses belajar dan mengajar yang bertujuan mempengaruhi norma-norma sosial melalui penyediaan informasi dan mendorong perubahan perilaku di antara seluruh anggota masyarakat. Konsep inklusif mengacu pada upaya untuk memastikan bahwa semua individu dan kelompok dapat berpartisipasi secara setara, termasuk mereka dari berbagai gender, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.
Salah satu dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Australia untuk Program PCSP adalah PERINTIS. PERINTIS memfasilitasi pelatihan berdasarkan kebutuhan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang manfaat sanitasi aman bagi kesehatan dan lingkungan, membangun keterampilan di bidang sanitasi dan infrastruktur, menghasilkan pendapatan, mengakses pekerjaan, dan mempercepat pemberdayaan sosial. Pengarusutamaan pendekatan gender dan inklusi sosial sebagai cara untuk mempromosikan kesetaraan dan keberlanjutan. Melalui penyelenggaraan pelatihan keterampilan, PERINTIS bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat pada pekerjaan dan kesempatan kewirausahaan, khususnya di bidang sanitasi, kesehaatan masyarakat, pengelolaan sampah, dan bidang lingkungan lainnya.
Untuk menjelaskan beberapa istilah yang akan digunakan, Panduan ini mengadopsi definisi dalam Strategi GEDSI Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur (KIAT) 2022-2026:
- Kesetaraan gender menjelaskan faktor-faktor yang menentukan hubungan/relasi antara perempuan dan laki-laki, serta bagaimana faktor-faktor tersebut mengakibatkan perbedaan kekuasaan di antara mereka;
- Inklusi disabilitas adalah partisipasi bermakna dari penyandang disabilitas dengan keberagamannya, ketika hak-haknya dipenuhi, ketika isu-isu mengenai disabilitas diselesaikan sesuai Konvensi Hak Penyandang Disabilitas;
- Inklusi sosial menggambarkan proses peningkatan kualitas partisipasi berbagai profil individu dan kelompok di masyarakat. Selain itu, juga menggambarkan peningkatan kemampuan, peluang, serta martabat kelompok rentan untuk berperan di masyarakat.
Proses pengarusutamaan GEDSI penting untuk diterapkan karena proses ini memastikan pelibatan yang bermakna dan aman bagi perempuan, laki-laki, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya untuk menyampaikan aspirasi dan pengalamannya dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program infrastruktur.
Jenis-Jenis Pelatihan yang Dilaksanakan
Pelatihan di Pilar 1 yang dilaksanakan terdiri dari Pelatihan Dasar dan Pelatihan Lanjutan. Pelatihan Dasar adalah pelatihan-pelatihan yang perlu diikuti pertama kali oleh semua peserta pelatihan sebagai pengetahuan dasar tentang sanitasi, GEDSI,dan sistem pengolahan air limbah domestik. Bagi peserta pelatihan yang tinggal di wilayah PCSP, pelatihan dasar yang wajib diikuti adalah Pelatihan Sanitasi Dasar Inklusif-Sambungan Rumah. Sedangkan peserta pelatihan yang tinggal di luar wilayah PCSP wajib mengikuti Pelatihan Sanitasi Dasar yang Inklusif-Sistem Septik.
Sedangkan Pelatihan Lanjutan adalah pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan keinginan untuk menyambung ke Sistem Pengolahan Air Limbah melalui pelatihan, promosi, dan sosialisasi. Pelatihan ini diutamakan untuk masyarakat, ketua RT/RW/tokoh masyarakat, kader-kader di masyarakat, dan tim sosialisasi PCSP.
Pelatihan Dasar
Pelatihan Lanjutan
- Safeguard untuk Masyarakat
- Safeguard bagi Tim Sosialisasi PCSP
- Pengenalan Disabilitas bagi Tokoh Masyarakat dan RT/RW/Lurah
- Dasar Komunikasi bagi Tim Sosialisasi PCSP
- Sosialisasi dan Promosi bagi Tim Sosialisasi PCSP